Biasa Aja Tuh

November 10th, 2008 by gitasplace

Ternyata nih… ketika we care about someone (special or not special, pakek telor ataupun enggak), reaksi kita terhadap segala sesuatu tentang orang itu bakalan beda dengan ketika we don’t care (or we don’t want to care) about the same someone.

Ketika seseorang cerita tentang pengalamannya yang sedikit gak nyaman dalam kehidupannya sehari-hari… (misalnya hal biasa yang sering terjadi pada semua orang, tapi tetep nyebelin…)

Kalo aku peduli, reaksinya bakalan: “duh, kasian banget sih loe… kenapa kok gak begini-begini-begitu sih? Makanya lain kali begini-begitu-begitu ya…”

Kalo gak peduli, ternyata reaksi aslinya: “hmm? ah biasa ajah tu… gitu aja kok heboh…”. Tapi semoga… aku selalu sadar untuk menutup mulutku ketika itu benar-benar terjadi…

To Apologize or Not To Apologize, To Forgive or Not To Forgive

September 26th, 2008 by gitasplace

Sebentar lagi hari raya Idul Fitri, pastinya akan banyak sekali ucapan mohon maaf lahir dan batin, mostly sekarang ini diucapkan via SMS. Kadang-kadang aku merasa ucapan via SMS ketika hari raya itu “hollow”… Kadang-kadang aku mempertanyakan sincerity dari ucapan-ucapan tersebut? Did she/he really mean it? Itu cuman bagian dari tradisi atau benar-benar mohon maaf? Kadang aku juga bertanya tentang diriku sendiri: maafin gak ya? Apa lagi yang perlu dimaafin ya? Aku gak inget orang itu pernah punya salah… hmm… mungkin emang pakek taktik sapu jagat, just in case ada salah-salah yang dia gak inget… kalo gitu aku juga just in case ada sesuatu yang belum kumaafkan…

Sebenarnya… ritual mohon maaf dan memaafkan kesalahan orang lain seharusnya bukan monopoli hari raya Idul Fitri. Kapan pun kita merasa perlu untuk mohon maaf… kapan pun kita mau memaafkan kesalahan orang lain, sah-sah aja kan? Malahan gak perlu nunggu Idul Fitri untuk saling memaafkan… kelamaan. Tapi memang… momen Idul Fitri merupakan suatu reminder, yang bisa mengingatkan kita untuk minta maaf kalau-kalau ada hal yang belum kita mintakan maafnya, yang juga bisa menghilangkan hal-hal yang mungkin menghalangi kita untuk minta maaf atau untuk memaafkan.

Buat apa sih kita memaafkan orang lain atau mohon maaf? Tentu saja untuk mendapatkan kedamaian, biar gak punya beban. Biar hidup kita enak. Tauk gak sih… waktu kita berselisih dengan orang lain, siapa pemenangnya? Pemenangnya adalah siapa yang memaafkan lawannya… 

Beberapa quote tentang maaf-memaafkan:   

“Forgiveness is the oil of relationships.”

Quote di atas bener banget, jika dan hanya jika yang dimaksud adalah “total forgiveness” dimana yang namanya maaf bukan cuman “lip service”, dan juga mengesampingkan gengsi, kesombongan, rasa takut.

“It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend.”

Yang ini aku kurang setuju… karena kita seharusnya lebih mengerti segala sesuatu tentang seorang teman… dan without forgiveness there will be no friendships. Kalo urusannya dengan teman, buat aku yang namanya memaafkan itu adalah menerima kekurangan dari seorang teman. Dan itulah esensinya berteman: menerima seseorang baik kelebihan maupun kekurangannya. Jadi quote di atas sedikit kontradiktif kalo buat aku. Tapi berdasarkan pengalaman, mungkin memang ada benarnya ya quote itu? Sulit memaafkan seorang “bekas” teman? Iyalah… kalo gak bisa maafin, apa masih bisa disebut “berteman”‘?  

Oya… masih ada hubungannya dengan maaf-memaafkan, juga dengan hubungan antar personal… aku jadi teringat accident jumatan di gedung kantorku. Cerita singkatnya adalah ada beberapa orang dari perusahaan lain yang juga ada di gedung kantorku mau jumatan di area kantorku tapi terus “diusir” dengan alasan bahwa tempat itu disediakan untuk orang-orang kantorku. Salah satu korbannya protes keras melalui blognya, tapi kemudian pihak kantorku menyikapinya dengan cukup bijak, mereka mengajak perwakilan dari perusahaan lain untuk bersilaturahmi, duduk bareng. Yang bikin aku “tergebok” adalah tulisan berikutnya yang bernada positif menyambut uluran tangan dari kantorku. Salah satu tulisannya adalah mengutip quote yang kurang lebih isinya seperti ini: untuk mendapatkan seorang sahabat, buatlah seseorang marah terlebih dahulu… kalau dia bisa menyikapinya dengan bijak berkepala dingin, maka itulah sahabat yang sebenarnya…

Tulisan rekan mantan korban tadi jadi mengingatkan… kalo sampai terjadi perselisihan, selalu “Lihatlah Lebih Dekat” seperti kata Sherina kecil, cobalah memposisikan diri kita di posisi lawan kita, berusahalah untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, apa latar belakangnya, jangan keburu menyimpulkan dan nge-judge sendiri tanpa data, karena hal-hal itulah yang akan menjadi modal kita untuk bisa saling memaafkan.

Hmm… semoga saja aku bisa memaafkan secara total, buat siapa saja yang sengaja ataupun tidak sengaja pernah menyakiti aku, pernah berselisih dengan aku.  Aku juga pengen setiap permohonan maaf yang aku ucapkan baik itu lisan ataupun secara tulisan bisa benar-benar kuajukan dengan tulus, bukan cuman tradisi… bukan cuman lip service… bukan juga karena terpaksa.

Aku bukan ustadzah yang mau coba menceramahi orang lain, ini cuman hasil lamunan di malam hari menjelang lebaran, ketika menunggu saat yang tepat buat tidur… ketika hot milo berubah jadi iced milo karena terlalu lama ditinggal nulis blog.

Last but not least, mohon maaf lahir dan batin buat semuanya… maaf kalo ada salah-salah kata…

Mungkin Hanya Perlu Keyakinan

July 25th, 2008 by gitasplace

<!–
@page { size: 8.5in 11in; margin: 0.79in }
P { margin-bottom: 0.08in }
–>

Pasti pernah denger yang namanya
“Sugesti” kan?

Mungkin pernah denger cerita bahwa ada
orang-orang sakit yang diberi obat placebo (obat kosong) bisa sembuh
dari penyakitnya karena diberi keyakinan, disugestikan, pikirannya
dikondisikan bahwa dia bakal sembuh kalo minum “obat” tersebut.

Aku seringkali berhasil menggunakannya
buat diriku sendiri kalo hampir-hampir sakit. Gak selalu berhasil,
tapi lumayan lah kalo cuman pusing2 dikit yang gak jelas penyebabnya,
atau diare yang cuman gara-gara lupa pakek selimut kalo malem. Yang
penting gak boleh nyerah.

“Ilmu” ini kupelajari di PSM-ITB.
Karena seringkali kalau nyiapin acara besar seperti konser atau
festival, mendekati hari-H daya tahan tubuh menurun. Mulailah
tenggorokan sakit, atau kedinginan dikit terus demam. Mau menyerah
kalah? Wah… bisa buyar acaranya nanti… Hmm… emang gak
se-ekstrim itu sih, masih ada temen-temen lain, tapi bayangin aja
mereka tuh sama lelahnya dengan kita, jadi ada kemungkinan mereka
juga kena gejala yang sama dengan kita kan? Maka… tak boleh
menyerah kalah… harus pintar atur makan, atur tidur, dan YAKINLAH
kalo tetep beraktivitas gak akan membuat kita jadi tambah sakit.

Cara yang sama bisa juga dipergunakan
untuk aktivitas fisik, seperti misalnya lintas alam, bersepeda,
anything… rule #1 adalah: kita harus MENIKMATI aktivitas tersebut,
rule #2: kita harus YAKIN kalo kita BISA, bisa sampe finish, bisa
nanjak, dst. Untuk bersepeda aku belum membuktikannya buat rute jarak
jauh, eh… kecuali dari Kintamani ke Ubud kali ya. Yakin aja
meskipun badanku kecil gak segarang bule-bule itu, asupan giziku gak
kalah banyak kok… (=makannya banyak sih hehehehe). Ternyata emang
bisa…

Kemaren waktu panas-panasan di Randegan
juga begitu. Pertamanya aku gak enjoy jalan di pematang sawah, buat
mantan penari balet ataupun orang yang seneng bersepeda,
keseimbanganku tergolong jelek, mungkin karena bentuk badanku kayak
Olive-nya Popeye. Tinggi melambai gitu… Aku pengen cepet selesai
bukan karena panasnya, melainkan karena capek mikir takut terjerembab
masuk sawah. Tapi setelah sehari dua hari… lama-lama aku mengganti
mindsetku: kamu gak bakal jatuh git, kalo jatuh… so what gitu loh?
ini sawah… kan sepatu udah pakek sepatu yang buat nyawah…  Dan
akhirnya… aku benar-benar menikmati Randegan… beneran deh… aku
pengen pulang karena kangen rumah aja, tapi aku berasa nyesel harus
balik ke kantor.

Tapi sayangnyaaaa… aku sendiri belum
bisa menggunakan “ilmu” tersebut untuk semua hal dalam
kehidupanku… dan sekarang ini, setelah akhirnya mengalami
“kebebasan”-ku, aku pengen banget bisa menggunakannya dalam 2
hal: menyelesaikan thesis dan belajar nyetir. Itu aja dulu buat
sekarang.

Oya, aku sebut-sebut “kebebasan”
kan? Dari apa? Bebas dari pikiran-pikiran yang merugikan diri
sendiri… Aku gak akan lebih spesifik deh, pokoknya dah pernah
berasa rugggiiii… banget karena pikiran2 yang gak penting. Jadi sekarang… Bangkit berdiri, lihat
ke depan, dan jalanlah dengan tegak.

Sebuah Quote

June 23rd, 2008 by gitasplace

I found this quote somewhere in the Internet:

Don’t make someone a priority when they make you an option.

The Rainbow Connection

June 14th, 2008 by gitasplace


Why are there so many
Songs about rainbows
And what’s on the other side
Rainbow’s are visions
They’re only illusions
And rainbows have nothing to hide
So we’ve been told and some chose to
Believe it
But I know they’re wrong wait and see

Someday we’ll find it
The Rainbow Connection
The lovers, the dreamers and me

Who said that every wish
Would be heard and answered
When wished on the morning star
Somebody thought of that
And someone believed it
And look what it’s done so far
What’s so amazing
That keeps us star gazing
What so we think we might see

Someday we’ll find it
That Rainbow Connection
The lovers the dreamers and me

Have you been half asleep
And have you heard voices
I’ve heard them calling my name
Are these the sweet sounds that called
The young sailors
I think they’re one and the same
I’ve heard it too many times to ignore it
There’s something that I’m supposed to be

Someday we’ll find it
The Rainbow Connection
The lovers, the dreamers and me

Sakit Itu Harus Dilawan…

June 2nd, 2008 by gitasplace

Aku sudah beberapa kali berhasil melawan flu. Maksudnya… ketika aku tauk aku bakalan flu (tenggorokan mulai sakit, suara berubah jadi bass, idung mulai meler-meler), dengan niat dan tekad yang kuat, akhirnya aku berhasil melawannya sehingga si flu tunggang-langgang gak jadi mampir. Aku pun gak jadi menderita-tepar-harus-minum-obat-dst…

Jadi… memang… sakit mesti dilawan. Apalagi kalo kita tauk cara melawannya… kalo flu mendekat, lawan aja pakek makanan, tidur, vitamin, olahraga (eh? betul gak?).

Tapi itu sakit yang tergolong "nyata", "visible" alias "dapat dilihat". Tapi kenapa ya kalo sakit yang "invisible" (know what I mean?) lebih susah untuk dilawan?? Sehingga meskipun akhirnya berhasil melawan… kita tetep aja takut untuk sakit lagi?

Kenapa gak bisa seperti : setelah sembuh dari flu, ya minum es lagi aja….

Selamanya Cinta…

May 15th, 2008 by gitasplace

Itu judulnya lagu D’Cinnamons. OST-nya Cintapuccino. Versi jadulnya dinyanyikan Yana Yulio. Gak tauk kenapa aku bisa suka banget sama lagu itu.

Pertama kali dengerin, pas pulang dari mbah Jingkrak, lagi ngantri lampu merah di perempatan Duren Tiga Lapan (dari arah Kemang), mukaku masih rada-rada panas dan lengket gara-gara abis chemical peeling. Tau-tau di radio ada lagu itu, Ndulo yang kasi tauk kalo itu D’Cinnamons. Radio si Avanza GS tiba-tiba terdengar bersih banget. Aku langsung suka sama lagu itu… Pdhal aku bukan penggemar D’Cinnamons.

Rasanya sih lebih ‘kena’ dibanding versi Yana Yulio-nya. Mungkin karena yang nyanyi perempuan, plus lebih ’sepi’… secara musiknya di depan hanya bermodal gitar akustik.

Sekarang, i-Ring-ku lagu itu. Ringtone-ku juga lagu itu… dan saat ini lagi belajar interludenya (buat versi Gita-nya). Kemaren dah berhasil dapetin intro-nya. Trus sampe tadi siang… waktu kudengerin pakek 6120-ku, aku masih tetep merasa 6120-ku jadi lebih bersih suaranya dibandingin lagu lain, hehe pdhal MP3-nya pun bukan yang kualitas gimana-gimana amat.

Hmm… masih gak ngerti sih… kenapa bisa tertarik banget sama lagu itu. Apakah karena liriknya "gue banget"? Hmm… gak tauk.

Andaikan kudapat mengungkapkan perasaanku hingga membuat kau percaya… Akan kuberikan seutuhnya rasa cintaku… Selamanya…

Sepeda Tandem…

May 2nd, 2008 by gitasplace

Pernikahan itu… mungkin seperti naik sepeda tandem ya?

Kalau kita naik sepeda sendirian (bukan tandem), kita hanya perlu memikirkan diri kita sendiri. Kalau sampe lupa ngerem terus nabrak pohon, yang sakit ya cuman sendirian, sakitnya juga gak seberapa karena momentumnya (massa kali velocity) juga gak besar, secara massa yang ada cuman berat badan kita plus berat sepeda. Kalo lewat jalan nanjak juga lebih enak, nggenjot cuman buat membawa kita sendiri plus sepeda…

Sedangkan naik sepeda tandem itu…

…kita harus punya tujuan yang sama dengan rekan tandem kita. Jangan sampai kita lagi berdiri di ragunan, terus yang satu pengen ke pondok indah, satu lagi pengen ke tanjung barat. Kalo dalam pernikahan, mungkin itu yang disebut satu visi, satu cita-cita…

…meskipun digenjot berdua, tapi tetep ada 1 orang yang jadi pengemudi. Kita sebut saja "imam sepeda tandem", orang yang duduk di kursi depan. Kalau dalam pernikahan, dialah yang disebut kepala keluarga.

…semua harus ditanggung bersama, apalagi di tanjakan, kecuali kalo rekan kita sekuat superman, bisa kuat nggenjot sendirian… hahaha… sebisanya gak membebani rekan tandem kita lah. Dalam pernikahan juga gitu kali ya… harus ditanggung bersama… bisa jadi istri tidak bekerja, tapi tetep ndak boleh ngerepotin suami dengan menghambur-hamburkan hasil jerih payah suami, tetep harus jadi manajer keuangan yang baik.

…harus memikirkan kita dan rekan tandem kita sebagai satu sistem. Waktu lewat jalan turunan dengan sepeda tandem, aku lebih sering ngerem dibandingkan ketika dengan sepeda single. Karena massanya jadi lebih gede, kalo sampe di ujung jalan ada got dan gak sempet ngerem, nah… pasti jatohnya lebih parah dibandingkan kalo sendiri (inget-inget hukum kekekalan momentum lah). Pernikahan… ya pastinya kita gak bisa lagi mikirin diri sendiri doang, mesti mikirin pasangan dan anak-anak kita… Kalo mau ambil keputusan, kita harus memperhitungkan juga apa konsekuensinya buat mereka.

…alangkah asiknya, kalo orang yang di belakang bisa jadi pengemudi juga… gak semua orang bisa mengendalikan sepeda tandem (jadi orang yang duduk di depan), nah kalo untuk perjalanan jarak jauh, duduk di depan itu pasti pegel banget, karena mengendalikan sepeda tandem dengan bodinya yang panjang itu lebih berat daripada sepeda biasa, sekali-sekali yang belakang juga harus bisa gantian jadi yang di depan. Jadi PJS (Pejabat Sementara) gitu loh… Kalo di pernikahan…?? Hmm… yang ini aku takut salah menganalogikan… kesannya kayak istri bisa berbagi peran dengan suami sebagai kepala keluarga. Bukan gitu sih maksudnya… tapi lebih ke… hmm… kok kayaknya terus2an berada di posisi kepala itu gak selalu enak ya?? kalo kepala keluarga perlu share tugas-tugasnya… alangkah enaknya kalo istri mampu juga untuk menerima "pembagian" tersebut…

Terus setelah berteori begini, biasanya muncul pertanyaan, kamu kapan Git…??

Pastinya… aku akan mulai mengganti sepeda sendiriku dengan sepeda tandem dalam menempuh jalan kehidupan ini, ketika sudah menemukan imam sepeda tandem yang satu visi, bisa kompak, bisa sama-sama mikir untuk sama-sama, dan tentu saja… kami sama-sama bersedia untuk berbagi sepeda tandem yang sama untuk menempuh perjalanan panjang ini.

The Cheerleader Who Needs To Be Cheerled

April 22nd, 2008 by gitasplace

"Cheerled"? Is that a word?

I used to be orang yang penuh energi. Di hari-hari kuliahku dulu, bisa jadi pagi kuliah, siang rapat/jalan/nyanyi-nyanyi, sore latian PSM, malam wisata kuliner, sampai di rumah aku masih kuat untuk bikin tugas/TA/bahkan koreografi. Hanya dengan sedikit motivasi saja, aku bisa menyelesaikan TA sekaligus dikejar-kejar para peserta festival paduan suara paling ribet.

Kenapa ya bow, sekarang jadi gak bersemangat… pulang kantor rasanya males mau ngapa-ngapain, jam 10 udah tidur. Padahal setahun yang lalu, pulang kantor aku bisa di depan piano berjam-jam.

Mau main piano, malas. Mau ngerjain thesis, malas. Pdhal tahun lalu aku punya cita-cita pengen ngajar piano. Tahun ini harus selesaikan thesis. Belum lagi target untuk bisa nyetir sebelum akhir Juni 2008.

Yaah… mungkin butuh cheerleader yaa…. biar lebih semangat lagi. Hmm… lucu aja. Waktu SMP pernah jadi cheerleader, khusus spesialis gerakan split, kayang, dan ngangkat-ngangkat orang, pokoknya yang serem-serem deh. Jadi… siapa bisa jadi cheerleader buat mantan cheerleader amatiran ini?

When We Were Young(er)

April 21st, 2008 by gitasplace

Dikolam_3Tau-tau pengen masang foto anak-anak PSM-ITB. Kebetulan ini foto yang aku paling suka, karena warnanya alami banget.

Foto diambil tahun 1999, di kolam renang kompleks Koteka Cabulita, Carita.

Dari mereka-mereka ini ku belajar untuk berteman tanpa berhitung, menerima orang lain apa adanya, menghargai perbedaan, bekerja sama untuk mencapai satu tujuan, menemukan jaim adalah hal yang haraaammm, komunikasi adalah hal yang penting, terus… belajar wisata kuliner, wisata boga, makan-makan, jalan-jalan, makan-makan lagi, makan-makan terusss…

Koteka Cabulita sudah penuh dengan ilalang, orang-orang di foto ini (dan juga foto-foto lain yang gak dipasang di sini) juga sudah beterbangan ke segala penjuru dunia (literally), kami semua sudah melangkah, selangkah, dua langkah, entah berapa langkah, meninggalkan masa-masa ketika kami lebih muda ini… tapi kenangan dan pelajaran yang kudapat dari mereka insya allah akan diingat selalu. Thanks guys…