Sebentar lagi hari raya Idul Fitri, pastinya akan banyak sekali ucapan mohon maaf lahir dan batin, mostly sekarang ini diucapkan via SMS. Kadang-kadang aku merasa ucapan via SMS ketika hari raya itu “hollow”… Kadang-kadang aku mempertanyakan sincerity dari ucapan-ucapan tersebut? Did she/he really mean it? Itu cuman bagian dari tradisi atau benar-benar mohon maaf? Kadang aku juga bertanya tentang diriku sendiri: maafin gak ya? Apa lagi yang perlu dimaafin ya? Aku gak inget orang itu pernah punya salah… hmm… mungkin emang pakek taktik sapu jagat, just in case ada salah-salah yang dia gak inget… kalo gitu aku juga just in case ada sesuatu yang belum kumaafkan…
Sebenarnya… ritual mohon maaf dan memaafkan kesalahan orang lain seharusnya bukan monopoli hari raya Idul Fitri. Kapan pun kita merasa perlu untuk mohon maaf… kapan pun kita mau memaafkan kesalahan orang lain, sah-sah aja kan? Malahan gak perlu nunggu Idul Fitri untuk saling memaafkan… kelamaan. Tapi memang… momen Idul Fitri merupakan suatu reminder, yang bisa mengingatkan kita untuk minta maaf kalau-kalau ada hal yang belum kita mintakan maafnya, yang juga bisa menghilangkan hal-hal yang mungkin menghalangi kita untuk minta maaf atau untuk memaafkan.
Buat apa sih kita memaafkan orang lain atau mohon maaf? Tentu saja untuk mendapatkan kedamaian, biar gak punya beban. Biar hidup kita enak. Tauk gak sih… waktu kita berselisih dengan orang lain, siapa pemenangnya? Pemenangnya adalah siapa yang memaafkan lawannya…
Beberapa quote tentang maaf-memaafkan:
“Forgiveness is the oil of relationships.”
Quote di atas bener banget, jika dan hanya jika yang dimaksud adalah “total forgiveness” dimana yang namanya maaf bukan cuman “lip service”, dan juga mengesampingkan gengsi, kesombongan, rasa takut.
“It is easier to forgive an enemy than to forgive a friend.”
Yang ini aku kurang setuju… karena kita seharusnya lebih mengerti segala sesuatu tentang seorang teman… dan without forgiveness there will be no friendships. Kalo urusannya dengan teman, buat aku yang namanya memaafkan itu adalah menerima kekurangan dari seorang teman. Dan itulah esensinya berteman: menerima seseorang baik kelebihan maupun kekurangannya. Jadi quote di atas sedikit kontradiktif kalo buat aku. Tapi berdasarkan pengalaman, mungkin memang ada benarnya ya quote itu? Sulit memaafkan seorang “bekas” teman? Iyalah… kalo gak bisa maafin, apa masih bisa disebut “berteman”‘?
Oya… masih ada hubungannya dengan maaf-memaafkan, juga dengan hubungan antar personal… aku jadi teringat accident jumatan di gedung kantorku. Cerita singkatnya adalah ada beberapa orang dari perusahaan lain yang juga ada di gedung kantorku mau jumatan di area kantorku tapi terus “diusir” dengan alasan bahwa tempat itu disediakan untuk orang-orang kantorku. Salah satu korbannya protes keras melalui blognya, tapi kemudian pihak kantorku menyikapinya dengan cukup bijak, mereka mengajak perwakilan dari perusahaan lain untuk bersilaturahmi, duduk bareng. Yang bikin aku “tergebok” adalah tulisan berikutnya yang bernada positif menyambut uluran tangan dari kantorku. Salah satu tulisannya adalah mengutip quote yang kurang lebih isinya seperti ini: untuk mendapatkan seorang sahabat, buatlah seseorang marah terlebih dahulu… kalau dia bisa menyikapinya dengan bijak berkepala dingin, maka itulah sahabat yang sebenarnya…
Tulisan rekan mantan korban tadi jadi mengingatkan… kalo sampai terjadi perselisihan, selalu “Lihatlah Lebih Dekat” seperti kata Sherina kecil, cobalah memposisikan diri kita di posisi lawan kita, berusahalah untuk memahami apa yang sebenarnya terjadi, apa latar belakangnya, jangan keburu menyimpulkan dan nge-judge sendiri tanpa data, karena hal-hal itulah yang akan menjadi modal kita untuk bisa saling memaafkan.
Hmm… semoga saja aku bisa memaafkan secara total, buat siapa saja yang sengaja ataupun tidak sengaja pernah menyakiti aku, pernah berselisih dengan aku. Aku juga pengen setiap permohonan maaf yang aku ucapkan baik itu lisan ataupun secara tulisan bisa benar-benar kuajukan dengan tulus, bukan cuman tradisi… bukan cuman lip service… bukan juga karena terpaksa.
Aku bukan ustadzah yang mau coba menceramahi orang lain, ini cuman hasil lamunan di malam hari menjelang lebaran, ketika menunggu saat yang tepat buat tidur… ketika hot milo berubah jadi iced milo karena terlalu lama ditinggal nulis blog.
Last but not least, mohon maaf lahir dan batin buat semuanya… maaf kalo ada salah-salah kata…